KOREAN ART 101: FILOSOFI JEONG (정) DALAM ESTETIKA BUDAYA KOREA

KOREAN ART 101: FILOSOFI JEONG (정) DALAM ESTETIKA BUDAYA KOREA

Konnichiwa, Tomo-Chan!

Dalam banyak tradisi seni modern, karya sering dipahami sebagai objek: sesuatu yang diciptakan, dipamerkan, lalu dinilai. Namun seni Korea tumbuh dari cara pandang yang berbeda. Di dalamnya, seni tidak pernah benar-benar berdiri sendiri. Ia selalu hadir sebagai bagian dari relasi—antara manusia dan alam, antara tangan seniman dan material, serta antara karya dan orang yang mengalaminya. Mari kita mulai bahasannya!

KOREAN ART 101: FILOSOFI JEONG (정) DALAM ESTETIKA BUDAYA KOREA

Salah satu konsep kunci untuk memahami hal ini adalah Jeong (정). Jeong bukan teknik, bukan gaya visual, dan bukan aliran seni. Ia adalah rasa keterikatan yang tumbuh perlahan melalui waktu, kebersamaan, dan perhatian. Melalui Jeong, seni Korea terasa hangat meski minimal, tenang meski tidak kosong, dan membumi meski sarat makna.

1. Jeong (정): Fondasi Emosional dalam Seni Korea

Jeong sering diterjemahkan sebagai rasa afeksi atau keterikatan, tetapi maknanya jauh lebih dalam. Ia adalah ikatan emosional yang tidak instan, tidak dramatis, dan tidak selalu diucapkan. Dalam konteks seni, Jeong hadir sebagai hubungan yang tumbuh diam-diam antara semua elemen yang terlibat dalam proses kreatif.

Berbeda dengan pendekatan seni Barat yang kerap menekankan ekspresi individual dan identitas personal, seni Korea memandang seniman sebagai bagian dari jaringan relasi. Karya bukan tempat ego dipamerkan, melainkan ruang di mana keterhubungan dirawat. Jeong membuat seni tidak berteriak untuk diperhatikan, melainkan mengundang untuk didekati dengan perlahan.

Inilah sebabnya banyak karya seni Korea terasa akrab, bahkan saat pertama kali dilihat. Bukan karena bentuknya mudah dipahami, tetapi karena ia membawa rasa “ditemani”. Jeong menjadikan seni sebagai pengalaman emosional yang bersifat relasional, bukan sekadar visual.

2. Relasi Manusia dan Alam: Alam sebagai Mitra, Bukan Objek

Dalam seni Korea, alam tidak diperlakukan sebagai latar atau pemandangan pasif. Gunung, kabut, sungai, dan pepohonan dipahami sebagai entitas hidup yang setara dengan manusia. Hubungan ini bukan romantisasi, melainkan bentuk penghormatan yang lahir dari hidup berdampingan dengan alam selama berabad-abad.

Jeong hadir dalam cara seniman Korea menggambarkan alam: tidak mendominasi, tidak menaklukkan, dan tidak memaksakan perspektif manusia sebagai pusat. Komposisi sering kali membiarkan alam “berbicara sendiri”, dengan kehadiran manusia yang kecil, bahkan nyaris tak terlihat. Ini bukan soal skala visual, melainkan sikap batin.

Pendekatan ini membuat seni Korea terasa membumi dan menenangkan. Ia mengajarkan bahwa relasi yang sehat bukan tentang kontrol, tetapi tentang keberadaan bersama. Dalam konteks ewafebriart, ini selaras dengan cara memandang pigmen bumi, warna tanah, dan material alami sebagai mitra kreatif, bukan sekadar alat.

3. Seniman dan Material: Proses sebagai Bentuk Kepedulian

Jeong juga hidup dalam hubungan antara seniman dan material. Dalam tradisi seni Korea, material tidak dianggap netral. Kertas hanji, tinta, tanah liat, dan pigmen memiliki karakter, batas, dan “kehendaknya” sendiri. Tugas seniman bukan memaksa material, tetapi mendengarkannya.

Karena itu, banyak karya seni Korea terlihat spontan, tidak terlalu rapi, dan kadang terasa “belum selesai”. Namun ketidaksempurnaan ini bukan kelalaian, melainkan hasil dari dialog antara tangan dan bahan. Proses menjadi lebih penting daripada hasil akhir, karena di situlah Jeong tumbuh.

Pendekatan ini memberi pelajaran penting: kedekatan lahir dari perhatian yang berulang. Dalam seni maupun kehidupan, relasi yang bermakna tidak dibangun lewat kecepatan, tetapi lewat kesediaan hadir dan berproses bersama.

4. Yeobaek (여백): Ruang Kosong yang Menghubungkan

Salah satu ciri visual paling khas dalam seni Korea adalah Yeobaek, atau ruang kosong. Namun Yeobaek bukan sekadar negative space dalam pengertian desain Barat. Ia adalah ruang relasional—tempat penikmat diundang masuk ke dalam karya.

Ruang kosong ini memberi napas pada komposisi, sekaligus membuka ruang kontemplasi. Yeobaek memungkinkan Jeong terjadi antara karya dan penikmat. Alih-alih dijejali informasi visual, penikmat diberi kepercayaan untuk merasakan, menafsirkan, dan hadir secara personal.

Inilah alasan seni Korea terasa hangat meski minimal. Kehangatan itu tidak datang dari warna mencolok atau detail berlimpah, melainkan dari ruang yang sengaja dibiarkan terbuka. Yeobaek bukan kekosongan, tetapi undangan untuk berelasi.

5. Mengapa Korean Art Relevan di Dunia yang Terlalu Bising?

Di era visual yang serba cepat dan penuh stimulasi, seni Korea menawarkan alternatif yang radikal: pelan, hening, dan relasional. Melalui Jeong, seni tidak lagi menjadi objek konsumsi, melainkan ruang perjumpaan. Ia tidak meminta untuk segera dipahami, tetapi bersedia menemani dalam waktu yang panjang.

Bagi ewafebriart, Jeong bukan sekadar konsep budaya Korea, melainkan bahasa lain untuk memahami seni sebagai praktik merawat hubungan—dengan diri, dengan alam, dengan material, dan dengan sesama. Dalam keheningan itulah seni menemukan kedalamannya, dan kita menemukan kembali cara melihat yang lebih manusiawi.

Posting Komentar

0 Komentar