Konnichiwa, Tomo-Chan!
Hai, para penggemar drakor! Hari ini saya mau membahas tentang salah satu seni tradisinal Korea [tepatnya Korea Selatan] yang berhubungan dengan penulisan. Entah kenapa rasanya tuh setiap negara punya keunikan tersendiri dengan gaya penulisannya.
Apalagi kalau punya huruf yang tidak berbentuk abjad Romawi; seperti misalnya: huruf kanji, hangul, hiragana, Thailand, hanacaraka [Jawa], Arab dan lain sebagainya. Huruf-huruf ini bukan sekadar untuk memberikan informasi semata tetapi juga diekspresikan dengan indah dan estetik. Namun yang terpenting dari itu semua, selalu ada filosofi yang membersamainya,
KOREAN ART 101: SENI KALIGRAFI SEOYE BUKAN SEKADAR MENULIS INDAH
Kalau kamu sering menonton seni budaya Korea, pasti nggak asing dengan tulisan indah di poster film atau intro saat kdrama dimulai. Tulisan kaligrafi Korea ini selalu menghiasi untuk memberikan sebuah judul atau deskripnya. Ada yang terlihat seperti ketikan keyboard--yang terkesan kaku dan kubisme, ada juga yang terlihat luwes dan indah dari sapuan kuas. Nah, kalau dari riset yang saya baca, Seoye ini adalah tulisan Korean yang umumnya dibuat dalam sapuan kuas.
Kaligrafi selalu menarik buat saya karena ada perpaduan tebal dan tipisnya garis dalam satu huruf. Apalagi kalau membuatnya dengan menggunakan kuas. Kedua garis ini nampak berbeda dan memberikan kesan indah dan menenangkan. Berbeda dengan tulisan yang modern, di mana bentuknya seolah lebih kaku seperti ketikan digital seperti tulisan ini. Memberikan kesan yang kaku dan tegas; sejujurnya agak membosankan juga.
Sejarah Perkembangan Seoye
Seni Seoye bagi rakyat Korean bukan semata-mata tulisan indah, tetapi juga memberikan makna tersendiri. Dalam sejarahnya, seoye dikenal ketika budaya kaligrafi Tiongkok masuk ke Korea. Terutama pada masa kerajaan awal seperti
Goguryeo, Baekje, dan Silla. Tulisan ini digunakan terutama untuk keperluan administratif, pendidikan, dan agama. Pada tahap ini, fungsi lebih diutamakan daripada estetika.
Perkembangan terbesar Seoye terjadi pada masa
Joseon Dynasty (1392–1897). Di era ini konfusianisme menjadi landasan utama kehidupan sosial. Kaligrafi menjadi bagian penting dalam pendidikan kaum sarjana (yangban) karena kemampuan menulis dianggap mencerminkan moralitas dan intelektualitas. Menulis dianggap bukan sekadar keterampilan. Ia adalah bagian dari pembentukan karakter. Seorang sarjana tidak hanya dinilai dari apa yang ia tulis, tetapi dari bagaimana ia menulisnya.
Filosofi Seoye
Salah satu hal yang membuat Seoye begitu menarik adalah filosofi di baliknya. Ia tidak berdiri sendiri sebagai seni visual, tetapi dipengaruhi oleh berbagai pemikiran besar Asia Timur, seperti: Konfusianisme, Taoisme, dan Buddhisme.
Yang pertama adalah gambaran dari kesatuan tubuh dan pikiran. Dalam Seoye, menulis bukan hanya aktivitas fisik. Ia adalah proses yang melibatkan: tubuh, pikiran dan napas. Sebenarnya sama seperti kita melakukan aktivitas lainnya, hihihi... Hanya saja ini dilakukan dengan lebih mindful.
Sebelum kuas menyentuh kertas, ada momen hening. Sebuah jeda kecil untuk menyelaraskan diri. Karena tanpa kesadaran penuh, goresan akan terasa kosong.
Keaslian Lebih Penting dari Kesempurnaan
Yang kedua adalah otentik. Tidak ada dua tulisan Seoye yang benar-benar sama. Bahkan jika ditulis oleh orang yang sama. Setiap goresan mencerminkan kondisi batin saat itu. Jika hati gelisah, garisnya bisa terasa tegang. Jika pikiran tenang, goresannya mengalir.
Hampir sama seperti kita menulis journal, hanya saja dalam seoye perubahan itu nampak dalam visual, sementara journaling dalam narasi dan tulisan kita. Seoye tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya menuntut kejujuran.
Keindahan dalam Kesederhanaan
Berbeda dengan seni yang kompleks dan penuh detail, Seoye sering kali terlihat sederhana. Namun di balik kesederhanaan itu, ada keseimbangan yang halus: antara hitam dan putih, antara isi dan ruang kosong, antara gerakan dan keheningan. Dalam seni seoye, ruang kosong (negative space) bukanlah kekosongan. Ia adalah bagian dari komposisi yang memberi “napas” pada karya.
Jika direnungkan, Seoye sangat relevan dengan kehidupan modern. Kita hidup di era serba cepat: mengetik cepat, menggulir layar cepat, berpikir cepat, dan berpindah perhatian dengan cepat. Seoye seakan mengingatkan bahwa tidak semua hal bernilai harus dilakukan tergesa-gesa. Ada kebijaksanaan dalam kelambatan. Ada kualitas dalam perhatian penuh. Ada makna dalam satu gerakan yang dilakukan dengan sadar.
Bahkan tanpa kuas tradisional pun, kita bisa mengambil semangat Seoye dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya dengan menulis satu kata penting di jurnal setiap pagi—seperti “tenang”, “fokus”, “sabar”, atau “pulih”—lalu menuliskannya perlahan sambil mengatur napas. Aktivitas sederhana itu bisa menjadi bentuk meditasi kecil di tengah dunia yang bising.
Pada akhirnya, Seoye bukan sekadar seni menulis indah. Ia adalah latihan kehadiran, ketenangan, dan karakter. Di balik tinta hitam yang sederhana, tersembunyi pesan mendalam bahwa cara kita bergerak, menulis, dan menjalani hidup akan selalu meninggalkan jejak.
0 Komentar
Dalam beberapa kasus kolom komentarnya tidak mau terbuka, Mohon maaf atas ketidaknyamanannya.