LIFE IS AN ART

Life is an art



Blog Seni Indonesia - ewafebriart.com | LIFE IS AN ART.

Jika seorang seniman menciptakan sebuah karya ? Lantas kita ini sesungguhnya karya ciptaan siapa ? Siapa Maha Seniman itu ? Sebuah pertanyaan yang membagongkan yang belakangan ini sibuk bercokol dipikiran.

LIFE IS AN ART


Ya.. Patut diketahui bahwa postingan ini sangat random, dan tidak direkomendasikan untuk dibaca bagi orang-orang yang sangat serius dan sudah merasa pintar. Karena postingan ini dari pikiran bocah yang sedang belajar tentang hidupnya. Hihihi..

"If You Want To Know About What The True Art Is, Learn To Know About Yourself. Because Life Itself is An Art, and We Are His Greatest Art Creations On Earth."

Kalo kalian membaca judul tulisan di atas, bakal dipastikan itu adalah sebuah kesimpulan sepihak. Hihi.. Berhubung postingan ini kategori perspektif, maka saya membuatnya sesuai dengan sudut pandang yang saya miliki.

Dan kalian bebas memilih sudut pandang dari arah yang berlawanan. Bukankah hidup ini memang dipenuhi banyak sudut pandang ? Dan itu sah-sah saja.

SENIMAN ADALAH


Pada suatu hari, manusia bodoh yang menulis postingan ini mendadak mendapatkan pertanyaan di dalam pikirannya ? Berawal dari berpikir tentang materi tulisan di Blog, walhasil malah terjebak dalam pertanyaan-pertanyaan yang absurd dan mendalam.

Materi tulisan yang kala itu mengusik pikirannya adalah tentang definisi seorang seniman. Apakah seniman itu ? 

Hingga pikirannya menangkap sebuah kesimpulan bahwa seniman adalah 

mereka yang menciptakan sebuah karya dengan keindahan yang bersumber dari makna kehidupan dan keresahan yang lekat dalam hidup mereka untuk orang lain.

Sebuah kesimpulan yang agak membagongkan memang. Haha.. Tapi sejauh otak saya mencari, definisi itulah yang bisa mewakili.

DEFINISI SENI


Definisi seni



Seniman adalah mereka yang menciptakan sebuah karya seni. Sementara definisi seni itu sendiri banyak sekali. Tergantung perspektif siapa yang mendefinisikannya.

Seperti misalnya Aristoteles yang mengatakan bahwa : 
seni adalah bentuk pengungkapan dan penampilan yang tidak pernah menyimpang dari kenyataan.
Sementara definisi seni menurut Prof. Drs. Suwaji Bastomi adalah 
Seni adalah kegiatan batin dengan pengalaman estetis dalam bentuk pernyataan agung yang memiliki kekuatan membangkitkan rasa.
Drs. Popo Iskandar mendefinisikan : 
seni adalah hasil ekspresi emosional yang ingin disampaikan kepada orang lain.
Dari ketiga definisi di atas, yang bisa saya tangkap adalah seni berhubungan dengan rasa (yang merupakan immaterial) namun dihidangan dalam bentuk karya (material) sehingga mampu mempengaruhi rasa orang lain saat menikmatinya.

Sebelum saya membuat tulisan yang random ini, saya terlebih dahulu mencari tahu segala sesuatu tentang seni, meskipun bermodalkan mesin pencari. 

Termasuk saat menemukan bahwa kata seni itu sendiri berasal dari kata sani (sansekerta) yang diartikan sebagai pemujaan, persembahan, dan pelayanan yang erat dengan upacara keagamaan.

Dari asal katanya di atas artinya seni itu sesungguhnya sangat dekat dengan ranah keagamaan. Bahkan asal usul katanya pun berhubungan erat dengan keagamaan. 

Lantas mengapa kita seringkali mendengar bahwa seni itu sangat berjarak (ada gap) dengan agama ? Mari kita telusuri sama-sama.

Merunut dari definisi ke definisi di atas, ternyata seni itu tak melulu tentang obyek yang indah, absurd, nyeleneh, unik dan gak biasa lainnya. Tapi justru berhubungan juga dengan hal yang bersifat spiritual. 

Di mana area spiritual ini adalah bersifat immaterial yang diwakili oleh emosi/rasa maupun gagasan. (Eh.. Gagasan itu material apa immaterial yak ? Jawab sendiri ya? Haha.. ).

UNSUR SENI


Unsur seni



Dua faktor penting yang ada dalam seni yaitu hal yang bersifat immaterial dan material juga ada dalam kehidupan kita sehari-hari. Jadi, apakah saya boleh menyimpulkan bahwa hidup ini adalah manifestasi seni yang paling tinggi ? Hahaha.. #ilmucocoklogi.

Pertanyaan bodohnya lainnya pun juga muncul disela-sela senam otakku. Jika saja karya seni dari para seniman itu diberi akal pikiran, kira-kira apakah mereka juga akan mencari tahu siapa penciptanya ? Pertanyaan yang absurd tapi membuat pikiran saya jadi terbuka sebenarnya. Haha..

Saya membayangkan si Bowgel itu memiliki akal pikiran seperti manusia, apakah dia kira-kira akan penasaran dengan keberadaan saya dan ingin mengenalnya ? Atau dia cuek-cuek saja yang penting dikenal oleh orang lain ? Hmmm...

Apabila benar dia akan mencari tahu tentang saya, kira-kira lewat jalur mana dia akan menemukannya ? Apakah bertanya kepada iwawa dan teman sejenisnya ? Ataukah dia menggali jati dirinya sehingga dia mampu mengenali penciptanya ?

Pertanyaan-pertanyaan ini apabila saya implementasikan pada diri saya sendiri, kurang lebih jadinya seperti ini ?

Bowgel adalah Saya. Apakah saya pernah merasa penasaran tentang siapa yang menciptakan saya ? Bagaimana saya mengenali pencipta saya ? Apakah saya harus mempelajari apa yang ada di dalam diri sendiri ? Atau saya mencari tahu tentang pencipta saya dari definisi orang lain ?

Nah.. Pada akhirnya seni membawa saya pada fase rasa penasaran tentang kehidupan ini. Tidak hanya berhenti pada menciptakan sebuah karya, namun justru membawa kepada rasa penasaran tentang "Siapa Sejatinya Sang Pencipta saya ?".

"The true art is within yourself. You didn't even know how and why you were created, till His lights approuched you and you wake up feeling an awe."

Dan apabila ditelaah lebih lanjut, hidup ini adalah karya seni yang Maha Tinggi. Yang telah diciptakan dan ditetapkan oleh Sang Pencipta Yang Maha Indah. Tak perlu jauh menilik keluar untuk bisa merasakan keindahan seni yang maha tinggi ini, cobalah tengok ke dalam dirimu sendiri. 

Betapa tidak,  semakin kita mengenali diri sendiri, semakin kita bisa merasakan betapa kaya emosi dan rasa yang dihasilkan. Semakin kita mempelajari diri, semakin kita bisa memahami unsur-unsur apa saja yang ada dalam diri ini. Dan semakin dalam kita membaca diri, semakin kita mampu merasakan keindahan dan kehadiranNya.

Bukankah seni membangkitkan perasaan bagi yang menikmatinya ? Maka ketika kita mengenali diri kita sendiri, merasakan setiap emosi dan rasa dalam diri sendiri, bukan kah sejatinya kita sedang menikmati karya seni itu sendiri ?

Dan masalah penasaran atau tidaknya kita terhadap Sang Pencipta, itu kembali ke pribadi masing-masing. Hehe.. 

Berhubung saya orangnya gampang penasaran. Maka saya ingin mencari tahu dan mengenali "Siapa Penciptaku ?". Karena betapa indah Maha Karyanya yang ada dalam diriku. Belum lagi pada orang lain.

SPIRITUALITAS SENI


Spiritualitas seni



Terkadang kita sulit mengagumi ciptaanNya yang kita temukan sehari-hari. Apalagi yang terekam dipikiran kita adalah tentang sifat dan sikap makhlukNya yang penuh kelemahan dan kekurangan. 

Namun ketika kita mengobrak-ngabrik diri sendiri, kita akan menemukan moment "eureka", betapa luar biasanya Sang Maha Kuasa itu menciptakan diri kita ini.

Di saat melihat patung 3 Dimensi dengan keruwetan dan keindahan yang sangat mendetail, kita terpana olehnya. Kita terkagum-kagum oleh kelihaian si penciptanya. 

Lantas, bagaimana mungkin kita tidak terkagum-kagum oleh Sang Pencipta kita ?

"Life is about a wide variety of arts. The art of loving, the art of living, the art of choosing, the art of thinking, the art of war, the art of suffering, the art of learning, the art of knowing, the art of letting go.. And counts on. But the most of all, is the art of finding the truth."

Di dalam dirimu terkandung 2 unsur utama dalam seni, yaitu material dan immaterial. Ada raga/jasad (obyek berbentuk material), ada kecantikan/keindahan (hasil yang dipancarkan), ada emosi/rasa, psikologi, ada jiwa dan ada satu hal yang hanya kita miliki sebagai manusia, yaitu akal. Betapa lengkap Maha KaryaNya. Yet, we still don't know Him and we don't even care to know about our creator.

Saya jadi ingat salah satu kajian dari Dr. Fahruddin Faiz, yang mengatakan bahwa pada akhirnya puncak segala ilmu itu adalah "Ilahi, Yang Maha Tinggi". Sebuah kesimpulan yang dulu tidak "relate" banget. Namun sekarang, Alhamdulillah sedikit demi sedikit bisa memahami maksudnya. Hahhaa..

Jadi mau lewat jalan ilmu manapun, rasa penasaran itu akan berujung pada hal yang sama, mencari kebenaran (the art of finding the truth).

Ketika seni dibawa ke ranah spiritual, maka seni tak hanya berhenti pada keindahan obyek yang mampu dilihat oleh panca indera saja. Namun kita akan tertantang untuk bergerilya mencari makna di balik simbol yang ada dan menikmati rasa yang ditimbulkannya. 

Bukankah gagasan/konsep karya seni seringkali datang dari intuisi ? Dan siapakah The Source dari intuisi sendiri ?

Sementara itu kita juga tahu, bahwa ranah spiritual selalu erat hubungannya dengan keagamaan. Maka seni bisa terhubung dengan agama melalui ranah ini. 

Di sinilah, mungkin gap antara agama dan seni tidak terlalu lebar. Karena ada benang merah menuju ke arah The Source, "Yang Maha Indah, Allah SWT".

Ya, mungkin bagi sebagian orang, tulisan ini terlalu naif. Hahaha.. Karena terburu-buru dalam membuat kesimpulan.

THE ART OF LETTING GO


Akan selalu ada perspektif yang berbeda di dunia ini. Dan itu sah-sah saja. Karena dunia ini sesungguhnya banyak dimensi, jadi kalian bisa mengambil sudut pandang dari arah yang berbeda. Toh pada akhirnya perbedaan itu akan membuat kaya khazanah hidup kita. Dan membuat hidup lebih indah aja. Yekan ?

Yang menjadikan tidak indah itu apabila kita memaksakan sudut pandang kita pada orang lain hanya untuk memuaskan ego kita.

"Dear beautiful souls, watch out your ego. Because it causes you to feel pain and suffering. Especially when the feedback is out of your expectations. "

Percayalah hidup yang enak itu yang terbebas dari penjara "ego".  Untuk menghilangkan ego sama sekali rasanya memang tidak mungkin, tetapi minimal kita mampu mendisiplinkannya pada porsi tertentu. 

Karena terkadang kita membutuhkan ego untuk bertahan hidup dan meningkatkan rasa percaya diri, tetapi kita juga harus menekannya pada level tertentu supaya tidak menyakiti diri sendiri (The art of letting go.. 😂).

Pun sesungguhnya kita juga tidak perlu bersusah payah membuktikan pada orang lain tentang siapa diri kita sebenarnya. Karena pada hakekatnya, ya sama saja. Hihihi..

Yang membedakan antara kita, satu dan lainnya adalah identitas fisik dan karakter (akhlak). Maka biarkanlah dengan melihat fisik, orang lain akan mengenali perbedaan kita. Dan dengan karakter yang kita bangun, akan menjawab rasa penasaran orang lain terhadap siapa diri kita yang sebenarnya.

Kenalilah dirimu sendiri sehingga kamu bisa menemukan makna hidup. Kamu bisa memahami kelebihan dan kekuranganmu. Sehingga kamu lebih mudah mencari solusi di saat sedang dilanda masalah. Kamu akan mampu mengendalikan dirimu dan mengatur segala kekuatan yang kamu miliki. Pada akhirnya kamu akan berada pada fase self-actualization

THE ART OF LIFE


Jika menilik dari kata asal seni >> "sani" yang berarti pemujaan atau persembahan maka tak salah jika kita mengaitkannya ke dalam ranah keagamaan.

Maka, persembahan apakah yang mampu kita berikan kepada Sang Pencipta sebagai bentuk rasa syukur atas penciptaan diri di dunia ini ?

Mungkin kita bisa memulai dengan berpikiran terbuka (open minded). Belajar menerima segala informasi dan ilmu yang ada. Mengamalkan ilmu yang cocok dengan prinsip hidup kita. Mencari makna hidup kita di dunia sebagai apa. Mengurangi sikap suka menghakimi antar sesama. 

Tidak perlu membandingkan diri sendiri dengan hidup orang lain. Belajar memahami mana yang harus disimpan, mana yang harus dilepaskan. Memutuskan mana yang harus digunakan, mana yang harus diabaikan. Dan perbanyaklah bersyukur atas kesempatan dan apapun yang ada dihadapan kita. 

Dan jangan lupa, belajarlah untuk mengenal Sang Pencipta kita dan beribadah kepadaNya sebagai bentuk rasa syukur dan cinta kita terhadapNya. Itulah persembahan yang sesungguhnya. That's the art of life.

Karena pada dasarnya seni kehidupan itu perpaduan antara bernafas, belajar, berpikir, berdzikir (mengingatNya) dan bersyukur. Alhamdulillah Ya Rabb ! 🙏

Semoga postingan kali ini bisa menjembatani jurang antara seni dan agama. Ya meskipun banyak juga yang tetap memisahkannya. Hahaha.. 

Sekali lagi, ulasan ini hanya tentang sebuah perspektif. Boleh setuju ataupun tidak. Kalian boleh lewat situ, saya memilih lewat sini. Dan kita akan bertemu di sana. Hehhee.. Sampai jumpa !

Post a Comment

0 Comments